Bersyukurlah Indonesia Tidak Termasuk Dalam Daftar Negara Termiskin di Dunia

www.vemale.com — Kamis, 09 Januari 2014 12:50 — Seperti dilansir business-economy, berikut adalah beberapa negara yang terpuruk di dalam kemiskinan. Satu hal yang patut disyukuri, Indonesia tidak termasuk dalam daftar tersebut, sekalipun kondisi perekonomian negara dewasa ini cukup mengkhawatirkan.
Klik di sini untuk melihat berita selengkapnya
Baca Juga
  • Perawat Indonesia Diminati Jepang

    Pemerintah membuat kebijakan mengirimkan tenaga perawat ke Jepang dengan mekanisme G to G yang tertuang dalam Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Tujuannya tentu agar bisa mengangkat nama bangsa di dunia internasional — health.okezone.com

  • 100 Tahun Prof Siwabessy, Bapak Atom Indonesia Perintis Cikal Bakal BPJS

    100 Tahun Prof Siwabessy, Bapak Atom Indonesia Perintis Cikal Bakal BPJS

    Kementerian Kesehatan menggelar peringatan 100 tahun Prof Dr GA Siwabessy, mantan menteri kesehatan yang menjabat pada 1996-1978. Prestasinya mengagumkan, mulai dari pemberantasan penyakit cacar hingga melahirkan cikal bakal BPJS. — health.detik.com

  • Selamat Ulang Tahun Model Cantik Indonesia, Indah Kalalo

    Vemale mengucapkan selamat berbahagia pada Indah Kalalo yang sedang merayakan hari jadinya. — www.vemale.com

  • Kemenkes: Daya Saing SDM, Indonesia Ada di Urutan 47 dari 187 Negara

    Kemenkes: Daya Saing SDM, Indonesia Ada di Urutan 47 dari 187 Negara

    Sumber Daya Manusia (SDM) memegang peranan penting terhadap kualitas sebuah negara. Nah, kesehatan dan gizi pun dianggap turut berperan dalam peningkatan kualitas SDM. — health.detik.com

  • Yuk, Ikutan Kompetisi Batik Indonesia Bersama Taiwan Excellence

    Batik adalah warisan budaya Indonesia yang Indah. Nah, kini Taiwan Excellence menggelar acara kompetisi untuk batik. Mau ikutan Ladies? — www.vemale.com

  • Indonesia Masih Kekurangan Alat Radioterapi

    Indonesia Masih Kekurangan Alat Radioterapi

    "Seharusnya satu alat radioterapi itu untuk 1.000 populasi." — life.viva.co.id

  • Baru 28 RS di Indonesia yang Memiliki Layanan Radioterapi

    Baru 28 RS di Indonesia yang Memiliki Layanan Radioterapi

    Radioterapi memiliki peranan penting dalam penatalaksanaan penyakit kanker. Namun sangat disayangkan, ketika tahu bahwa baru 28 rumah sakit, baik negeri maupun swasta di Indonesia yang memiliki layanan penyinaran tersebut."Idealnya, perbandingannya itu 1 radioterapi untuk melayani 1 juta penduduk. Kalau sekarang, di mana jumlahnya baru 28, berarti 1 radioterapi untuk 6,8 juta penduduk. Saat ini, masih jauh dari kata ideal," kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional, Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto dalam konferensi pers yang diadakan di Departemen Radioterapi RSCM Lantai 3, Salemba, Jakarta, Kamis (28/8/2014)Untuk itu, Djarot pun memiliki harapan agar pemerintahan yang baru lebih perduli terhadap pendistribusian radioterapi di semua rumah sakit di Indonesia."Jangan sekitar Pulau Sumatera dan Jawa saja, harus menyeluruh. Sebab, di Indonesia Timur, radioterapi hanya tersedia di Makassar. Pun di Kalimantan, hanya tersedia di 1 kota saja, yaitu Banjarmasin," kata dia menambahkan.Kanker, kata Djarot, merupakan pembunuh nomor dua setelah stroke. Jika pasien dengan kanker tidak ditangani segera karena jumlah dari radioterapi yang tidak memadai, ditakutkan memiliki dampak ke depannya."Di RSCM waktu tunggu untuk melakukan radioterapi adalah 1 bulan. Kalau di seluruh Indonesia, mencapai 3 sampai 6 bulan. Padahal, pasien kanker kan harus sesegera mungkin bisa di-treatment untuk radioterapi," kata dia menerangkan.Lebih lanjut pria berkacamata mengatakan, kanker yang merupakan kumpulan sel yang tidak terkendali, dapat dikecilkan atau dibunuh menggunakan radiasi dengan dosis tertentu. "Maka itu, radiasi perlu. Baik penyinaran dari luar atau memasukan jarum ke dalam, supaya bisa sel-sel kanker itu dibunuh," kata Djarot.Djarot pun menekankan bahwa pasien kanker tidak perlu takut untuk melakukan radioterapi. Sebab dosis akan diukur dengan tepat, agar semuanya berjalan aman dan sesuai dengan apa yang diharapkan. — health.liputan6.com

  • BATAN: Yang Punya Fasilitas Radioterapi di Indonesia Hanya 28 RS

    BATAN: Yang Punya Fasilitas Radioterapi di Indonesia Hanya 28 RS

    Dengan semakin berkembangnya teknologi kedokteran, khususnya di bidang radioterapi, berbagai teknologi radioterapi mutakhir kini dapat digunakan. Sayangnya, jumlah rumah sakit yang memiliki fasilitas ini hanya 28 di seluruh Indonesia. — health.detik.com

  • Indonesia, Termasuk Negara yang Enggan Aksesi FCTC

    Indonesia, Termasuk Negara yang Enggan Aksesi FCTC

    Dengan menetapkan pengendalian tembakau sebagai prioritas dalam agenda kesehatan masyarakat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hingga kini ada 178 Negara (88 persen populasi dunia) yang telah ikut menyukseskan Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Sayangnya, Indonesia belum ikut ambil bagian dalam perjanjian tersebut.Seperti disampaikan National Profesional for Tobacco Free Initiative Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dina Kania bahwa Ethiopia telah menjadi negara ke 178 yang aksesi FCTC. Sementara Indonesia masih dianggap sejajar dengan negara Afrika yang belum mau ikut FCTC."Indonesia menjadi negara Asia satu-satunya yang belum aksesi FCTC dan disejajarkan dengan negara kecil Afrika," kata Dina saat memberi materi FCTC versus RUU Pertembakauan di Hotel Sahid, Jakarta, ditulis Rabu (27/8/2014).Dina menyampaikan, ada 8 negara yang belum mengaksesi FCTC yaitu:1. Andorra, Eropa (jumlah penduduk 86.165)2. Eritrea, Afrika (jumlah penduduk 5.415.280)3. Indonesia (jumlah penduduk 242.325.638)4. Liechtenstein, Eropa (jumlah penduduk 36.304)5. Malawi, Afrika (jumlah penduduk 15.380.888)6. Monaco, Eropa (jumlah penduduk 35.427)7. Somalia, Afrika (jumlah penduduk 9.556.873)8. Zimbabwe, Afrika (jumlah penduduk 12.754.378) — health.liputan6.com

  • Rokok yang Diisap Orang Indonesia Sama dengan 32 Kali Luas Jawa

    Rokok yang Diisap Orang Indonesia Sama dengan 32 Kali Luas Jawa

    Sepertinya tidak akan ada yang menyangka bila panjang batang rokok yang dikonsumsi orang Indonesia telah melewati luas pulau Jawa.Demikian disampaikan Sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam Prasodjo. Ia menghitung, bila panjang batang rokok sebesar 244 milyar (tahun 2006) dikalikan 9 cm maka hasilnya 2,196 triliun yang jika diubah menjadi kilometer menjadi 21.960.000."Yang menarik, jarak antara Jakarta-Surabaya adalah 668 kilometer. Sehingga panjang rokok yang dihisap orang Indonesia selama setahun kira-kira setara dengan 32.874 kali Anda bolak-balik Jakarta-Surabaya," kata Imam saat acara forum media FCTC versus RUU Pertembakauan di Hotel Sahid, Jakarta, ditulis Rabu (27/8/2014).Hal ini diperparah oleh data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang memperkirakan 21 juta anak Indonesia menjadi perokok dan akan meningkat setiap tahunnya. — health.liputan6.com

  • Belum Aksesi FCTC, Pemerintah Indonesia Dianggap Abai pada Anak

    Belum Aksesi FCTC, Pemerintah Indonesia Dianggap Abai pada Anak

    Meningkatnya jumlah perokok pada anak dalam sepuluh tahun terakhir menandakan kegagalan pemerintah dalam melindungi anak. Karena itu, Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia Hery Chariansyah, SH menegaskan, pemerintah harus segera menandatangani perjanjian internasional Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC)."Prevalensi perokok anak usia 10-14 tahun meningkat dari 9,5 persen pada tahun 2001 menjadi 17,5 persen pada tahun 2010. Sementara itu usia 14-19 tahun meningkat dari 12,7 persen tahun 2001 menjadi 20,3 persen pada tahun 2010," kata Heri saat temu media di Gran Sahid Jaya Hotel, Jakarta, ditulis Rabu (27/8/2014).Hery menerangkan, data tersebut menunjukkan bahwa anak adalah target pasar dan satu-satunya sumber perokok pengganti (substitusi) yang menjamin keberlangsungan dan perkembangan industri rokok. Oleh sebab itu, dia mendesak Presiden SBY karena di akhir masa pemerintahannya belum ada tanda-tanda Indonesia akan aksesi FCTC."Sudah saatnya Indonesia menunjukkan keberpihakannya untuk melindungi anak dari zat adiktif rokok dengan melakukan upaya kebijakan yang dapat mencegah anak menjadi perokok pemula. Ini juga dilakukan agar hak konstitusional anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal dapat diwujudkan seperti dalam undang-undang dasar 1945 pasal 28B ayat (2)," jelasnya.FCTC, lanjut Hery, sama sekali tidak akan mematikan industri rokok atau petani tembakau. Justru FCTC akan melindungi generasi muda dari dampak buruk rokok terhadap kesehatan. "Absennya Indonesia dari 177 negara yang telah meratifikasi FCTC akan mengakibatkan Indonesia menjadi target pasar dan merusak kesehatan generasi bangsa. Sementara rokok rentan di usia anak-anak, perempuan dan penduduk miskin," katanya.Hery menambahkan, regulasi yang ada saat ini tidak mampu membendung upaya sistematis dan masif industri rokok yang memengaruhi anak-anak. Sebab rokok mengandung 7.000 bahan kimia, 70 diantaranya menyebabkan kanker."Jika sampai batas akhir kekuasaan Presiden SBY tidak melakukan aksesi FCTC, maka patut disebut Pemerintah tidak berpihak terhadap perlindungan anak dan gagal melindungi anak dari zat adiktif rokok," ungkapnya. — health.liputan6.com

  • Gara-gara Ini Indonesia Bisa Dikucilkan Negara-negara Lain

    Gara-gara Ini Indonesia Bisa Dikucilkan Negara-negara Lain

    Tak seperti yang dibayangkan banyak pihak, Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) sama sekali tidak merugikan negara apalagi memiskinkan petani tembakau.Justru dengan menandatangani FCTC, Indonesia berarti turut serta melindungi petani dan generasi saat ini dan akan datang dari dampak buruk konsumsi tembakau dan paparan asap tembakau bagi kesehatan, sosial dan ekonomi. Juga untuk mengurangi secara berkesinambungan dan substansial prevalensi pengguna tembakau dan paparan terhadap asap tembakau.Begitu disampaikan National Profesional for Tobacco Free Initiative Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dina Kania disela-sela acara forum media FCTC versus RUU Pertembakauan di Hotel Sahid, Jakarta, ditulis Rabu (27/8/2014).Menurut Dina, ketika Indonesia menjadi anggota FCTC maka negara memiliki hak dalam konferensi dunia. Begitupun dengan pemuatan petunjuk (guideline) FCTC yang dibuat saat konferensi. Sebaliknya, ketika Indonesia tidak terlibat, maka kita kehilangan kesempatan untuk duduk berunding bersama negara lain di dunia untuk kepentingan indonesia."Itulah mengapa kita hanya bisa jadi observer (red:penonton), kita tidak punya suara, kita tidak bisa menyampaikan kepentingan kita apalagi memperjuangkan apa kepentingan kita. Ini kerugiannya, Indonesia jadi terkucil dari diskusi atau pembuatan regulasi internasional," kata Dina.Dalam jangka panjang, kata Dina, Indonesia juga dinilai akan rugi karena semua industri rokok dunia akan beralih ke Indonesia dan meracuni generasi muda bangsa ini. "Ini adalah masalah kehidupan. Jika pemerintah tidak ikut FCTC, maka akan semakin banyak anak perokok dan masyarakat yang menghirup asap juga terkena imbasnya. Indonesia saat ini dijadikan pangsa pasar rokok menarik tidak hanya bagi produsen rokok nasional tapi internastional. Semua lari ke Indonesia karena aturannya belum ada," ujarnya. — health.liputan6.com

  • BPJS Terbuka Menyesuaikan Program Kartu Indonesia Sehat dengan JKN

    BPJS Terbuka Menyesuaikan Program Kartu Indonesia Sehat dengan JKN

    Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang direncanakan oleh Presiden terpilih Indonesia yang ke-7, Joko Widodo, dinilai tidak bertentangan dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). — health.detik.com

  • Di Indonesia, Penderita Stroke Berasal dari Segala Umur

    Stroke merupakan salah satu penyebab kematian teratas di Indonesia. Penyakit tersebut tidak hanya dialami oleh orang tua, tapi juga terjadi pada anak-anak — health.okezone.com

  • Kasus Kematian Kanker Hati di Indonesia Melebihi Wabah Ebola

    Kasus Kematian Kanker Hati di Indonesia Melebihi Wabah Ebola

    Jumlah kasus kanker hati di Indonesia per tahun melebihi total kumulatif kasus ebola di dunia. Meskipun begitu, pemerintah kurang tanggap dalam penanganan kanker hati di sini. "Ebola yang baru saja terjadi kembali sudah membuat masyarakat heboh. Masa jumlah kasus kematian akibat kanker hati yang lebih tinggi setiap tahunnya, pemerintah diam-diam saja," kata DR. Dr. Rino A. Gani, SpPD, KGEH menyayangkan. Menurut data Globocan (IARC) 2008 sampai 2012, lanjut Rino, kanker hati merupakan penyebab kematian kedua terbesar di Asia Pasifik dan ketiga di dunia. Kasus kanker hati di Indonesia, mencapai 13.000 kasus dengan angka kematian mencapai 12.825 jiwa. "Biasanya disebabkan oleh Hepatitis B dan C yang mencapai 30 juta jiwa. Dan 50 persen di antaranya menderita penyakit hati kronis, dan 10 persen mengalami kanker hati," kata Rino yang merupakan Ahli Penyakit Dalam FKUI-RSCM dalam acara `Bayer Himbau Masyarakat dan Pemerintah Tanggap Penanganan Hati Stadium Lanjut` di Restoran Tesate, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (26/8/2014) Sedangkan untuk wabah ebola, data yang dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 20 Agustus 2014 menyebutkan, total kumulatif kasus global sebanyak 2.615 kasus dengan 1.427 kematian dengan case fatality rate (CFR) sebesar 54,57 persen. — health.liputan6.com

Berita Lain
  • Roberto Martinez: Ross Barkley Beruntung Tidak Cedera Parah

    Roberto Martinez: Ross Barkley Beruntung Tidak Cedera Parah

    Roberto Martinez mengatakan cedera Ross Barkley bisa jauh lebih parah apabila terjadi lebih dini. — www.goal.com

  • Linda Wenifanteri Melaju ke Babak III

    Linda Wenifanteri Melaju ke Babak III

    Pemain tunggal putri Indonesia Linda Wenifanteri berhasil melaju ke babak — www.tribunnews.com

  • Polisi Tetapkan 6 Tersangka Bentrok di Mimika

    15 orang ditahan di Polres Mimika pascabentrok warga di Kabupaten Mimika beberapa hari lalu. — news.okezone.com

  • Banyak Kendaraan Menepi di Bahu Jalan, Tol Cikampek Dipacu 30 Km/jam

    Banyak Kendaraan Menepi di Bahu Jalan, Tol Cikampek Dipacu 30 Km/jam

    Antrean kendaraan masih terjadi di ruas tol Cikampek arah Jakarta. Akibatnya tidak lain karena banyak kendaraan yang berhenti di bahu jalan. — news.detik.com

  • Lama Tak Sidang, Ben Kasyafani Akui Tegang

    Lama Tak Sidang, Ben Kasyafani Akui Tegang

    Ben Kasyafani terlihat lebih rapi ketika datang ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat, Rawasari, Selasa (26/8/2014). Seperti yang sudah-sudah, Ben datang untuk mengurus perceraiannya dengan sang istri, Marshanda. Namun, ada yang berbeda dengan Ben. Ia terlihat kikuk. "Iya (tegang) banyak wartawan. Maklum lah sudah nggak lama (sidang lagi)," tutur Ben. Sidang kali ini beragendakan pembuktian. Majelis hakim mempersilahkan kubu Marshanda sebagai penggugat mendapat giliran pertama untuk menghadirkan saksi yang menguatkan keinginannya untuk bercerai. Salah satu saksi yang dipersiapkan ialah pembantu rumah tangga. Hal itu diakui kuasa hukum Marshanda, Aldila Warganda. "Kami bawa saksi yang kenal sama penggugat (Marshanda) dan tergugat (Ben), yang tahu betul apa permasalahan mereka. Asisten rumah tangga itu kenal kenal banget dengan mereka. Nanti diujukin saksinya biar hakim yang pertama tahu dulu," tutur Aldila. Sampai berita ini diunggah, sidang masih digelar di ruang B. Seperti biasa, Chacha hanya diwakili kuasaa hukumnya. Sedangkan Ben datang mengenakan jas hitam. — showbiz.liputan6.com