Bersyukurlah Indonesia Tidak Termasuk Dalam Daftar Negara Termiskin di Dunia

www.vemale.com — Kamis, 09 Januari 2014 12:50 — Seperti dilansir business-economy, berikut adalah beberapa negara yang terpuruk di dalam kemiskinan. Satu hal yang patut disyukuri, Indonesia tidak termasuk dalam daftar tersebut, sekalipun kondisi perekonomian negara dewasa ini cukup mengkhawatirkan.
Klik di sini untuk melihat berita selengkapnya
Baca Juga
  • Indonesia Akan gunakan Vaksin Polio Injeksi Secara Bertahap

    Vaksin polio diberikan sebanyak empat kali, satu di antaranya akan diberikan secara injeksi. — www.beritasatu.com

  • Yang Bikin Ilmuwan Indonesia Kurang Meneliti

    Yang Bikin Ilmuwan Indonesia Kurang Meneliti

    Bukannya para ahli di Indonesia tidak mampu meneliti. Pasalnya, setiap penelitian yang dikembangkan para ahli di Indonesia seringkali dikatakan tidak didukung pemerintah. Entah karena biaya produksi yang kurang atau memang kurangnya koordinasi di lintas sektor sehingga hasil penelitian hanya berakhir di pemberitaan media saja.Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti mengatakan, setiap penelitian atau terobosan yang dilakukan di universitas atau para ahli sangat disayangkan memang jika tidak ditindak lanjuti. Tapi masalahnya, pemerintah juga perlu melihat adanya dukungan lintas sektor."Kita akan lihat kalau agenda penelitiannya sangat penting. Contohnya saja ada penelitian tentang penanggulangan malaria oleh Universitas Airlangga beberapa waktu lalu. Itu butuh koordinasi dan kolaborasi hasil penelitian dan meminta dukungan dari lintas sektor. Karena pada akhirnya, akan dicari cost efektif untuk bicara masalah produksi," kata Wamenkes saat temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (22/7/2014).Wamenkes mengatakan, hal ini juga didiskusikan dalam diskusi High Level Preparatory Meeting (HLPM) dan Subcomitte on Policy and Programme Development and Management (SPPDM) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di New Delhi pada 14-18 Juli lalu. — health.liputan6.com

  • Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, 'Istana' Bagi Anak-anak Kanker

    Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, 'Istana' Bagi Anak-anak Kanker

    Tak tampak raut wajah kesedihan pada anak-anak di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Mereka tampak sangat bersemangat dan aktif bermain, meskipun kondisi tubuhnya tak lagi sehat total. — health.detik.com

  • Potret Inspiratif Anak Berkebutuhan Khusus Indonesia di Senayan City

    Turut aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang tergabung dalam Corporate Social Responsibility (CSR), Senayan City kembali mewujudkan komitmen kepeduliannya terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. — www.vemale.com

  • Kenapa Kasus Diare Masih Tinggi di Indonesia?

    Kenapa Kasus Diare Masih Tinggi di Indonesia?

    Meski terlihat sederhana, kondisi diare pada anak sebenarnya masalah serius yang harus diperhatikan orangtua. Pasalnya, diare memengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga berisiko kematian bayi dan balita jika ia sampai mengalami dehidrasi.Seperti disampaikan Koordinator Sistem Kesehatan untuk program pemberian tablet zinc pada bayi dan balita dari Micronutrient Initiative, dr Adhi Sanjaya., MSc-IH bahwa kebanyakan ibu tidak paham akan tanda bahaya diare."Bukan diare masalahnya, tapi jika anak dehidrasi maka respon tubuh terhadap penyakit lain akan cepat bereaksi. Kebanyakan orangtua nggak paham tanda bahaya dehidrasi karena mereka kurang terdidik, menikah muda dan buku panduannya dari pemerintah terlalu tekstual," kata Adhi saat diwawancarai Liputan6.com, ditulis Senin (21/7/2014).Adhi menyontohkan, di Lombok, Nusa Tenggara Barat misalnya pernah ada satu ibu yang memiliki dua anak kembar laki-laki. Kedua anaknya terus mengeluarkan feses cair dan rewel. Karena disana masih percaya dengan dukun atau disebut Tuan Guru, jadi dibawalah kedua anak tersebut kepadanya.Sampai disana, ia diberikan air yang harus diminum oleh kedua anak itu. Salah satu anak mulai tenang, tidak rewel dan tidak menangis lagi. Tapi anak satunya malah semakin menangis keras.Merasa anaknya yang tenang mulai membaik, ia membiarkan satu anaknya tinggal di rumah bersama orangtua ibu tersebut. Sedangkan anak yang terus rewel dibawanya ke puskesmas. Sampai di puskesmas, anak itu langsung dirujuk ke Rumah Sakit dan selamat. Tapi kabar buruknya, anak ibu yang ditinggalkan di rumah meninggal seketika saat anak lainnya dibawa ke rumah sakit."Bayangkan, betapa senangnya keluarga tersebut ketika memiliki anak kembar laki-laki. Tapi kebahagiaan itu punah ketika ibu tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai tanda-tanda anak dehidrasi. Sudah jelas, anak yang tenang itu saat diare dia mengalami shock. Sepintas mungkin dia diam dan tidak rewel. Tapi nyatanya, dia tidak bisa lagi diselamatkan," jelas Adhi.Tidak seperti orang dewasa, lanjut Adhi, pada bayi ketika mereka kekurangan cairan kekebalan tubuhnya serta merata akan menurun drastis. Maka itu jika anak memiliki gejala aneh, segera harus diperiksakan. — health.liputan6.com

  • Indonesia Sumbang Empat Persen Infeksi Baru HIV di Dunia

    Indonesia Sumbang Empat Persen Infeksi Baru HIV di Dunia

    Mereka menyoroti keprihatinan terhadap Indonesia. Kasus infeksi baru telah meningkat sebesar 47 persen sejak tahun 2005. — www.tribunnews.com

  • Kesehatan Bukan Prioritas Masyarakat Indonesia

    Kesehatan Bukan Prioritas Masyarakat Indonesia

    Bagi seorang manusia kesehatan adalah hal utama. Apa artinya kaya raya namun sakit-sakitan? Harta yang dimiliki jadi berarti.Namun inilah ironi yang terjadi di Indonesia. Upaya masyarakat menjaga kesehatan berada di nomor kesekian dibandingkan memenuhi kebutuhan hidup lainnya.Tak heran jika penyebab kematian masyarakat Indonesia tahun 2007 sekitar 59,5% disebabkan penyakit tidak menular seperti stroke, hipertensi, diabetes, kanker, paru seperti dikutip laman Kementerian Kesehatan RI, Jumat (18/7/2014)."Orang Indonesia tidak meletakkan kesehatan sebagai prioritas. Rumah, inilah yang ingin dicapai sebagian masyarakat Indonesia. Ini tidak salah, rumah memberikan kenyamanan," tutur Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM (K) di sela-sela diskusi media "Bersama Kita Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien Kanker" Kamis (17/7/2014)."Ini harus diubah, kesehatan seharusnya berada di hulu perekonomian di hilir," tambah Dr. Nila.Untuk menjadikan kesehatan sebagai prioritas masyarakat harus segera mengubah gaya hidupnya lanjut Dr Nila. Diantaranya dengan rutin berolahraga, tidak merokok dan makan makanan bergizi.Sebagai perbandingan, di negara maju penyebab kematian terbesar tidak disebabkan oleh penyakit. Berdasarkan informasi yang Dr Nila dapatkan dari kolega dokternya usai mengikuti seminar di Perancis, penyebab kematian orang Swis adalah bunuh diri, minuman beralkohol dan kecelakaan.Menurut analisis Dr Nila, hal tersebut disebabkan karena masyarakat negara maju sudah meletakkan menjaga kesehatan sebagai hal yang penting, sehingga kematian karena penyakit memiliki persentase rendah. — health.liputan6.com

  • Indonesia Bakal Miliki Pusat Koleksi Mikroba Berstandar Internasional

    Akan mampu menampung banyak koleksi hingga 40 tahun ke depan. — www.beritasatu.com

  • Raport Indonesia Dalam Penanggulangan AIDS Masih Merah

    Dilihat dari proporsi angka infeksi baru, Indonesia masuk peringkat 8 besar dunia dengan dengan menyumbang 4% dari total angka infeksi baru HIV di dunia. — www.beritasatu.com

  • Miss Big Indonesia Tetap Nyaman dengan Badan Gede

    Miss Big Indonesia Tetap Nyaman dengan Badan Gede

    Miss Big Indonesia 2014, Jelita Clarisa Ramlan (28) memiliki berat badan jauh dari kata ideal seorang wanita, yaitu 125 kilogram. Meski begitu, tak pernah sekali pun Jelita mempermasalahkan berat badannya, karena ia begitu menyukainya. Sebab, kondisi ini tidak membuatnya menjadi sosok wanita yang insecure (ketakutan)"Insecure dalam artian, kalau cewek yang badannya kurus, ketika ngaca akan merasa panik saat lengannya terlihat gede. Kalau aku, semuanya kan gede dan tidak pernah mikirin. Perut dan paha memang sudah seperti ini," kata Jelita saat bertandang ke Redaksi Health Liputan6.com, SCTV Tower, Senayan City, Jakarta, Rabu (16/7/2014)Adik kandung artis peran, Olla Ramlan mengaku, merasa senang dan nyaman dengan kondisinya saat ini. "Nyaman dan happy-happy saja, tuh," kata Jelita sembari tertawa.Lanjut Jelita, sewaktu kecil berat badannya tergolong kecil. Tapi, begitu memasuki masa-masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan mendapatkan bahwa dirinya menstruasi, hasrat untuk selalu makan tak terbendung lagi. "Tidak ada pemicu yang membuatku jadi suka makan. Memang dari dulu, tidak bisa nahan nafsu makan. Makan sih, normal-normal saja," kata Jelita.Jika Jelita sewaktu kecil memiliki berat badan normal, berbeda dengan Runner Up Miss Big Indonesia 2014, Deliza Magdalia Faruwu. Perempuan 28 tahun mengaku, berat badannya tak pernah kecil dari dulu. "Keluarga saya memang gede-gede," kata dia.Walaupun di sekolah Deliza tergolong siswi terbesar, bullying atau intimidasi dari teman-temannya tak pernah ia rasakan. Bahkan, Deliza sempat mengikuti ajang kompetisi dance dan pernah menjajal keahlian sebagai mayoret (pemimpin Marching Band)."Dari SD sampai SMP, saya tergolong cewek paling gede, tidak seideal berat anak seumuran saya. Tapi, saya tidak pernah dibully. Aman-aman saja," kata Deliza. — health.liputan6.com

  • Cerita Miss Big Indonesia Tentang Berat Badannya

    Cerita Miss Big Indonesia Tentang Berat Badannya

    Memiliki berat badan jauh dari kata ideal, tidak membuat Finalis Miss Big Indonesia 2014, Jelita Clarisa Ramlan (29) dan Deliza Magdalia (28) harus menurunkan berat badannya. Tapi, karena satu kondisi tertentu, membuat keduanya mau tidak mau harus menurunkannya.Sewaktu berat badan mencapai 150 kilogram, Jelita Ramlan sempat terjatuh dari tangga yang mengakibatkan tulang bagian belakang kejepit. Alhasil, dokter menganjurkan perempuan manis dengan tato di sekujur tubuh ini untuk diet total."Enggak makan nasi, enggak makan goreng-gorengan, dan harus makan yang serba direbus. Disuruh fitnes juga. Dalam kurun waktu 3 bulan, turun 30 kilogram. Berat badannya jadi 120 kilogram," kata Jelita saat bertandang ke Redaksi Health Liputan6.com, SCTV Tower, Senayan City, Jakarta, Rabu (16/7/2014)Merasa bosan dengan pola makan yang diterapkannya waktu itu, membuat Juara Pertama Miss Big Indonesia 2014 menghentikannya dan mengembalikan ke pola hidup sedia kala. "Lama-lama boring, makannya gitu melulu. Balik lagi kayak dulu, dan gede lagi," kata Jelita menambahkan.Bagi Jelita, memiliki tubuh berukuran sangat besar tidak terlalu dipermasalahkan. Asalkan, dirinya senang dan senantiasa sehat. Terpenting, jaga kesehatan wajib hukumnya."Kalau untuk turun karena diet, tidak terpikiran. Kalau turun, ya, turun. Kalau naik, ya, naik. Tapi, tetap, enggak boleh heboh makannya," kata Jelita.Pun dengan Runner Up Miss Big Indonesia 2014, Deliza, tak pernah sekali pun terlintas dalam benaknya untuk menurunkan berat badannya. Meski begitu, berat badan Deliza kini mengalami penurunan."Awalnya 120 kilogram, sekarang berkisar 114,9 sampai 115 kilogramlah," kata Deliza.Sama dengan Jelita, Deliza pun merasa nyaman meski badannya besar. "Saya merasa nyaman. Kecil gedenya badan ini, ini tetap saya," kata dia. — health.liputan6.com

  • PT L'Oreal Indonesia Meraih Predikat Kantor Ramah Lingkungan

    Bagi seorang pekerja, kantor merupakan tempat kedua setelah rumah di mana mereka banyak melakukan aktivitas seharian. — www.vemale.com

  • 1 Dari 10 Orang Indonesia Punya Hepatitis, Tak Semua Punya Gejala

    1 Dari 10 Orang Indonesia Punya Hepatitis, Tak Semua Punya Gejala

    Hepatitis merupakan penyakit menular yang hampir tidak terlihat gejalanya. Peradangan hati ini sudah memengaruhi hingga ke seluruh dunia. Hepatitis sendiri sudah membunuh 1,4 juta jiwa setiap tahun. — health.detik.com

  • Belanja Persiapan Lebaran Seharian di Ramadan Mega Sale LAZADA INDONESIA

    Menjelang datangnya Lebaran, banyak destinasi belanja yang menawarkan diskon bagi pelanggan setianya. — www.vemale.com

  • Kasus Bayi Pendek Indonesia Masuk Lima Besar Dunia

    Angka stunting (tubuh pendek) pada bayi di Indonesia masih masuk lima terbesar di dunia. Sebagian besar diketahui berada di Provinsi Jawa Timur. — health.okezone.com

Berita Lain
  • KPU Didorong Tetap Jaga Independensinya Sebagai Pengawal Demokrasi

    KPU Didorong Tetap Jaga Independensinya Sebagai Pengawal Demokrasi

    22 Juli 2014 menjadi momen penting untuk bangsa Indonesia dalam proses berdemokrasi. — www.tribunnews.com

  • Kepada Media Asing, Prabowo Isyaratkan Kalah

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon presiden Indonesia, Prabowo Subianto menduga telah ada kejadian yang cukup besar terkait kecurangan di pemilihan umum 9 Juli lalu. Hal itu mencegahnya dari memenangkan jajak... — www.republika.co.id

  • Pertandingan Sepak Bola Ala Game FIFA

    Pertandingan Sepak Bola Ala Game FIFA

    Selama ini Game FIFA selalu berusaha meniru pertandingan sepak bola sebaik mungkin, lalu bagaimana jika sebaliknya? — www.infospesial.net

  • Anak masa kini berusia lebih pendek?

    Benarkah obesitas mengakibatkan harapan hidup anak-anak masa kini lebih singkat dari orang tua mereka? — www.tribunnews.com

  • Baru Dimulai, Rapat DPR Soal Merpati Langsung Di Skors

    Baru Dimulai, Rapat DPR Soal Merpati Langsung Di Skors

    Komisi VI DPR RI mengagendakan rapat kerja dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) mengenai pembahasan hasil panja Merpati.Rapat yang diagendakan dimulai pukul 10.00 WIB ini akhirnya baru berjalan pada pukul 10.20 WIB mengingat sebelumnya anggota Komisi VI belum mencapai quorum.Dengan dihadiri 8 anggota Komisi dan mewakili 6 fraksi akhirnya rapat dimulai. Namun belum sampai membicarakan hasil keputusan panja, pimpinan rapat yang juga wakil ketua Komisi VI, Erik Satrya Wardhana langsung menskors rapat tersebut.Skors dilakukan karena salah satu anggota Komisi VI, Irmadi Lubis dari fraksi PDIP mengaku belum dapat menerima hasil keputusan panja."Dari hasil kesimpulan ini semua diambil alih DPR, kalau soal manejemen ini kan keputusan RUPS, saya dari anggota fraksi dari PDIP mengaku diluar kuasa saya sebagai anggota DPR kalau seperti ini," ungkapnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (7/7/2014).Bahkan Irmadi menanyakan siapa yang menyepakati hasil panja perwakilan dari fraksinya dan kalau tetap keputusan panja akan menjadi bagian dari keputusan Komisi VI, Irmadi mengaku siap untuk mundur dari Komsi VI."Saya siap dikeluarkan dari PDIP kalau seandainya ini tetap akan dilanjutkan tanpa ada penjelasan lanjut," jelasnya.Sementara di kesempatan yang sama, Erick mengaku menjelaskan rapat internal mengenai panja Merpati ini sudah dilakukan dan disepakati untuk disampaikan pada Menteri BUMN pada 2 Juli 2014."Pak ini sudah hasil keputusan RDP kita pada 2 Juli lalu pak, jadi ini kesimpulan fraksi. Kalau begitu kita terpaksa skors dulu rapat 15 menit, mohon maaf ya Pak Menteri," jelas Erik. (Yas/Ahm) — bisnis.liputan6.com