Tragis, Bayi Ini Lahir Saat Ayah Dan Ibunya Meregang Nyawa Karena Kecelakaan

www.vemale.com — Jum'at, 21 Maret 2014 17:05 — Bayi mungil bernama Xiao Zhao, ditemukan 3 meter dari perut ibunya. Ia selamat meski kedua orang tuanya harus meninggal di sana kecelakaan.
Klik di sini untuk melihat berita selengkapnya
Baca Juga
  • Tak Sampai Hati, Jual Bayi Sendiri demi Biaya Pengobatan Suami

    Seorang wanita tega menjual bayi untuk mendapatkan biaya pengobatan suaminya. — www.vemale.com

  • Begini Cara Proses Bayi Tabung

    Program bayi tabung harapan baru pasutri untuk memiliki momongan. Proses bayi tabung adalah penyimpanan embrio beku. — health.okezone.com

  • Perlukah Proses Bayi Tabung?

    Pasangan suami isteri mendambakan si kecil. Namun bagaimana jika belum dapat momongan? Solusinya Bayi Tabung. Perlukah cara tersebut? — health.okezone.com

  • Bayi Tabung Berpotensi Miliki Anak Kembar

    Program bayi tabung, bukan hanya membutuhkan biaya yang tinggi, namun juga memiliki risiko tersendiri, salah satunya kehamilan kembar. — health.okezone.com

  • Cinta Memang Buta, 5 Kisah Tragis Bunuh Diri Akibat Patah Hati

    Ada sejumlah kisah tragis bunuh diri yang disebabkan oleh patah hati. — www.vemale.com

  • Bayi Menangis di Dalam Pesawat, Orang Tua Minta Maaf Dengan Cara Mengharukan

    Membawa balita ketika bepergian dengan pesawat seringkali merepotkan. Sebuah hal yang unik dilakukan kedua orang tua ini ketika membawa bayinya naik pesawat. Simak artikel lengkapnya di sini. — www.vemale.com

  • Pengguna BPJS Bisa Ikuti Program Bayi Tabung

    Program bayi tabung bisa jadi solusi untuk memiliki anak. Lantas apakah bisa menggunakan asuransi BPJS? — health.okezone.com

  • Alasan Bayi Tabung di Indonesia Sepi Peminat

    Rasa frustasi pastinya dirasakan pasutri yang sangat mengidamkan momongan, terlebih program bayi tabung yang harganya sangat fantastis. — health.okezone.com

  • Beda Bayi Tabung dan Hasil Pembuahan Biasa, Adakah?

    Beda Bayi Tabung dan Hasil Pembuahan Biasa, Adakah?

    Bayi yang lahir dengan proses bayi tabung memiliki kualitas yang sama dengan bayi yang lahir karena pembuahan alami. Jadi, bila ada yang mengatakan kualitas di antara kedua bayi memiliki perbedaan, itu tidak benar sama sekali.Memang, terdapat sejumlah komplikasi yang mungkin terjadi. Misalnya saja kehamilan ganda, hamil di luar kandunga, hiperstimulasi ovarium, serta infeksi atau pendarahan saat pengambilan sel telur."Bukan berarti dengan adanya komplikasi itu, lantas membuat anak yang dilahirkan dengan proses bayi tabung berbeda dengan bayi karena pembuahan alami," kata Konsultan Fertility FKUI-RSCM sekaligus anggota tim IA-RC (Reproductive Clinic) dan IA-IVF (In Vitro Fertilization) Daya Medika, Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K).Lagipula, tidak didapatkan perbedaan dalam hal kecacatan, pertumbuhan, dan perkembangan di antara kedua bayi. "Perlu diketahui bahwa tingkat keberhasilan program bayi tabung sekitar 40 sampai 50 persen," kata dia menerangkan.Perlu diwaspadai bagi wanita yang telah berusia 40 tahun. Budi mengatakan, kemungkinan untuk berhasil begitu kecil, disebabkan kualitas sel telur yang dimiliki sudah tidak sebaik saat masih muda.Penjelasan ini disampaikan oleh Budi dalam diskusi 'Mengatasi Masalah Gangguan Kesuburan Dengan Pilihan Cerdas: Not Simple, But Smart IVF' di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Selasa (16/12/2014). — health.liputan6.com

  • Daya Medika Beri Layanan Program Bayi Tabung dengan Tarif Rp 30 Juta

    "Tingkat keberhasilan program bayi tabung di seluruh dunia berkisar 40-50 persen." — www.beritasatu.com

  • Langkah Pamungkas Dapatkan Bayi Bila Cara Lain Sudah Nggak Mempan

    Langkah Pamungkas Dapatkan Bayi Bila Cara Lain Sudah Nggak Mempan

    Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh pasangan dengan kondisi infertilitas (gangguan kesuburan) adalah program bayi tabung.Program bayi tabung dapat dilakukan bila sperma dan sel telur di luar tubuh manusia dipertemukan. Setelah terjadi pembuahan, sejumlah 2 sampai 3 embrio akan ditanam kembali ke rahim si calon ibu."Hal ini yang membedakan dengan konsep inseminasi, di mana proses pertemuan antara sperma dan sel telur tetap terjadi di dalam tubuh manusia," kata Konsultan Fertility FKUI-RSCM sekaligus anggota tim IA-RC (Reproductive Clinic) dan IA-IVF (In Vitro Fertilization) Daya Medika, Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K).Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa program bayi tabung dapat dijadikan solusi bagi mereka yang ingin mendapatkan keturunan bila terjadi gangguan sperma, adanya sumbatan pada kedua saluran telur, endometriosis atau kista cokelat, serta gangguan pematangan yang menyebabkan pasangan suami istri sulit mendapatkan keturunan. Dalam diskusi 'Mengatasi Masalah Gangguan Kesuburan Dengan Pilihan Cerdas: Not Simple, But Smart IVF' di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Selasa (16/12/2014), dia memberitahukan jika kini telah hadir Smart IVF (In Vitro Fertilization) yang membantu pasangan tersebut menjalani program bayi tabung.Menurut Budi, Smart IVF memiliki proses yang tidak sederhana, karena sama dengan proses bayi tabung lainnya yang melewati 8 tahapan, yaitu pemeriksaan USG, hormon, saluran telur dan sperma, penyuntikan obat untuk membesarkan sel telur, penyuntikkan obat penekan hormon, pengambilan sel telur, pembuahan, pengembangan embrio, penanaman embrio serta tahap menunggu hasil."Namun dengan konsep ini, biaya yang diperlukan lebih terjangkau," kata dia menekankan. — health.liputan6.com

  • Peminat Bayi Tabung di Indonesia Masih Minim

    Peminat Bayi Tabung di Indonesia Masih Minim

    Jumlah klinik teknologi bayi tabung pun masih terbatas. — life.viva.co.id

  • Kualitas Bayi Tabung Sama dengan Bayi dari Pembuahan Alami

    Tingkat keberhasilan program bayi tabung sekitar 40-50 persen. — www.beritasatu.com

  • Kasihan, Bayi Meninggal Setelah Dicium Orang Tak Dikenal

    Mencium bayi adalah bentuk kasih sayang orang tua. Tetapi bagaimana jika mencium bayi justru berakibat fatal? Simak kisah lengkapnya di sini. — www.vemale.com

  • 200 Ribu Pasangan Dapatkan Anak dari Bayi Tabung

    200 Ribu Pasangan Dapatkan Anak dari Bayi Tabung

    Jumlah pasangan yang mengalami gangguan kesuburan di Indonesia masih cukup tinggi. Data Biro Pusat Statistik 2008 mencatat, 10 persen dari 40 juta pasangan usia subur mengalaminya. Artinya, 4 juta pasangan kurang beruntung dalam hal perolehan anak. "5 persen atau 200 ribu pasangan dibantu dengan bayi tabung. Karena program bayi tabung menjadi salah satu pilihan bagi pasangan suami istri yang mengalami gangguan kesuburan, dan ingin memiliki keturunan tersebut," kata Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K) Penjelasan ini disampaikan Konsultan Fertility FKUI-RSCM sekaligus anggota tim IA-RC (Reproductive Clinic) dan IA-IVF (In Vitro Fertilization) Daya Medika dalam diskusi 'Mengatasi Masalah Gangguan Kesuburan Dengan Pilihan Cerdas: Not Simple, But Smart IVF' di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Selasa (16/12/2014) Meski begitu, masih banyak dari pasangan suami istri yang tidak ingin mengikuti program bayi tabung. Alasannya pun beragam, mulai dari akses yang sangat minim dan biaya pelayanan yang dikenal sangat mahal. "Untuk akses bayi tabung, memang jumlah klinik bayi tabung di Indonesia masih sedikit, hanya ada 27 klinik, dan hanya ada di 9 Provinsi. Dan sebagian besar berada di Pulau Jawa," kata Budi. "Sedangkan di luar Pulau Jawa, adanya hanya di Medan, Padang, dan Bali," kata Budi menambahkan. Maka itu, tak heran bila banyak masyarakat yang tersebar di Jambi, Riau, dan sejumlah provinsi lainnya yang 'melarikan diri' ke Singapura atau Malaysia. Dalam pengembangannya, Indonesia pun tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. "Di Indonesia baru mengerjakan 5.000 bayi tabung, sedangkan di Singapura telah mengerjakan 6.000, Malaysia sudah mengerjakan 8.000, dan Vietnam yang belajar di Indonesia telah mengerjakan 15.000 bayi tabung," kata dia menerangkan. Lebih lanjut Budi, mengatakan, untuk mengenai biaya, saat ini sudah ada klinik yang melayani proses bayi tabung dengan harga yang sangat murah, hanya Rp. 30 juta. "Hadirnya suatu program yang canggih (sophisticated), modern, terjangkau, reproductif, teknologi tinggi atau SMART IVF diharapkan akan dapat membantu mereka yang membutuhkan," kata Budi menjelaskan. — health.liputan6.com

Berita Lain