Pemilu 2014

Jadwal Pemilu Legislatif 2014 di Luar Negeri

Jadwal Pemilu Legislatif 2014 di Luar Negeri
politik.news.viva.co.id — Sabtu, 22 Maret 2014 18:16 — Pemilu di luar negeri digelar antara 30 Maret sampai 6 April 2014.
Klik di sini untuk melihat berita selengkapnya
Baca Juga
Berita Lain
  • Koeman: Barcelona Bakal Singkirkan Manchester City

    Koeman: Barcelona Bakal Singkirkan Manchester City

    Barcelona sebelumnya sudah pernah menyingkirkan Manchester City di babak yang sama musim lalu. — selebrasi.com

  • Penguatan Dollar Jadi Momok Bisnis TV Berbayar

    Penguatan Dollar Jadi Momok Bisnis TV Berbayar

    Tantangan tersebut datang dari siaran TV gratis alias free to air (FTA) serta laju dollar AS yang terus menguat. — www.tribunnews.com

  • Bima Arya Setuju Kereta jadi Transportasi Tamu Negara ke Bogor

    MENURUT Walikota Bogor Bima Arya, penggunaan transportasi massal itu bisa saja dilakukan dengan sedikit penyesuaian. — news.metrotvnews.com

  • Steven Gerrard Ingin Jadi Manajer Liverpool

    Steven Gerrard Ingin Jadi Manajer Liverpool

    Menangani Liverpool menjadi salah satu hasrat mantan kapten Inggris tersebut. — www.goal.com

  • Brazil Dinilai Langgar Tata Krama Diplomasi

    INILAHCOM, Jakarta - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai Brazil telah melanggar tata krama berdiplomasi dengan menolak surat kepercayaan Duta Besar Indonesia untuk negara tersebut, dengan pertimbangan hukuman mati seorang warganya."Perlakuan Brazil dalam dunia diplomasi sungguh sangat tidak terpuji dan telah melanggar tata krama berdiplomasi," kata Hikmahanto melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (21/2/2015).Hikmahanto mengatakan tindakan Brazil ini berisiko memperburuk hubungan antardua negara yang telah lama terjalin dan saling menguntungkan.Atas perlakuan pemerintah Brazil terhadap Dubes Indonesia di sana yakni Toto Riyanto, Menlu Indonesia telah memanggil Toto pulang ke Indonesia untuk berkonsultasi. Pada saat yang bersamaan Kementerian Luar Negeri RI telah melayangkan nota protes diplomatik."Tindakan Kemlu telah benar. Indonesia tentu tidak bisa menerima perlakuan seperti itu dari pemerintah Brazil," ujarnya.Menurut Hikmahanto, meski tidak disampaikan alasan nyata atas penolakan surat kepercayaan itu, namun diduga kuat ini bentuk protes pemerintah Brazil atas satu warganya yang telah dihukum mati bulan lalu dan satu lagi yang akan menjalani hukuman mati periode kedua."Pemerintah Brazil telah memulai tindakan untuk memperburuk hubungan dengan Indonesia semata karena melakukan perlindungan yang berlebihan atas warganya yang melakukan kejahatan yang serius," katanya.Dia menegaskan Indonesia sebagai tindakan balasan bisa saja melakukan tindakan persona non grata atau pengusiran terhadap satu atau beberapa diplomat Brazil yang sedang bertugas di Indonesia.Namun demikian hal itu belum perlu dilakukan saat ini karena pemerintah Indonesia harus berpikiran jernih. Pemerintah Indonesia masih berada dalam tahap memahami keberlanjutan kemarahan dari pemerintah Brazil.Sebaliknya, kata dia, Brazil yang harus berpikir dua kali bila hendak meneruskan protes dan kemarahannya."Mereka harus berpikir apakah sebanding 'merusak' hubungan baik kedua negara dengan melindungi warganya yang melakukan kejahatan yang sangat serius di Indonesia. Disamping, tindakan Brazil berpotensi mengintervensi kedaulatan hukum Indonesia," jelas dia.Sebelumnya, Presiden Brazil Dilma Rousseff, Jumat waktu setempat, menolak menerima surat-surat kepercayaan Duta Besar Indonesia untuk negara ini, untuk menunjukkan kemarahan dia pada eksekusi seorang warga Brazil terpidana narkoba oleh Indonesia bulan lalu."Kami kira penting diperhatikan bahwa ada evolusi dalam situasi ini untuk mengklarifikasi hubungan negara Indonesia dengan Brazil," kata Rousseff saat menerima surat-surat kepercayaan dari para duta besar lima negara lainnya.Rousseff mengatakan skrining terhadap perwakilan Indonesia akan sedikit ditingkatkan, berkaitan dengan eksekusi hukuman mati untuk warga negara kedua Brazil bernama Rodrigo Gularte (42) yang dijatuhi hukuman mati pada 2004 karena menyelundupkan enam kilogram kokain ke Indonesia lewat papan selancar.Keluarga Gularte telah berusaha mendapatkan grasi untuk anggota keluarganya itu namun gagal. Grasi diajukan dengan alasan terpidana menderita schizophrenia paranoid sehingga harus dipindahkan ke fasilitas kejiwaan. — nasional.inilah.com